Terus Berkarya Tanpa Peduli Orang Lain Mau Menerimah atau Tidak - Siraj Anggara

Translate

Sabtu, 26 November 2016

Cara Mengatur Poto Pada Postingan di Blogger

Ketika anda sedang mempost artikel dan hendak menambahkan foto /gambar, caranya :

1Klik HTML (di kiri atas halaman editing artikel)
2. copy paste skrip di bawah di tempat di mana anda mau meletakkan foto/gambar. (Skript berikut porsinya 6 gambar + 6 nama/keterangan gambar, anda dapat menambah atau mengurangi jumlahnya - akan saya jelaskan nanti).
<table border="1">
<tr>
<td>linkgambar1</td>
<td>linkgambar2</td>
<td>linkgambar3</td>
</tr>
<tr>
<td>namagambar1</td>
<td>namagambar2</td>
<td>namagambar3</td>
</tr>
</table>
<table border="2">
<tr>
<td>linkgambar4</td>
<td>linkgambar5</td>
<td>linkgambar6</td>
</tr>
<tr>
<td>namagambar4</td>
<td>namagambar5</td>
<td>namagambar6</td>
</tr>
</table>

Untuk menambah jumlah kolom kesamping dan kebawa, tinggal di kopi paste aja. Oky...
Selamat Mencoba Kawan

Sabtu, 15 Juni 2013

MAJENE DIPOLITISASI SEBAGAI KOTA PENDIDIKAN



Kabupaten Majene sebagai kota pendidikan merupakan hasil konsensus  politik dari pembentukan Provinsi Sulawesi-Barat. kesepakatan ini muncul karna Majene secara ekonomi dan politik tidak mampu bersaing dengan Kabupaten lain di Sulbar. Kita bisa melihat sendiri bagamana daya saing perpoitikan dan ekonomi di Kabupaten Majene yang sangat rendah. Bukan tidak mungkin Majene bisa mewujudkan cita-cita ini, jika konsistensi pemerintah dan masyarakatnya berjuang untuk mewujudkan hal itu.  Namun dalam realitasnya kesiapan itu tidak nampak dan tidak dimiliki dikalangan pemerintah dan masyarakat.

Lebel kota pendidikan untuk Majene tidak lahir dari proses perkembangan Kultur pendidikannya tatapi hasil dari keseakatan politik. Bedanya dengan yogyakarta (kota pendidikan) lahir dari rahim kultur pendidikan. Dari kenyataan ini Kabupaten Majene sebagai kota pendidikan hanya dipolitisasi untuk pembentukan Sulasiwe-Barat. Komitmen pemerintah tidak terbukti untuk untuk mewujdkan kota pendidikan, kita bisa melihat bagaimana kebijakan pemerintah provinsi dan Kabupaten Majene, Hal-hal yang krusial dan sangat penting untuk dibenahi tidak dapat perhatian. Ini dikarenakan kota pendidikan hanya dimaknai dengan banyaknya sekolah dan perguruan tinggi atau bangunan fisik semata. Itupun pembangunan fisik untuk pendidikan terjadi diskriminasi terhadap sekolah yang ada di daerah pelosok, bangunan yang masih layak di pakai tetapi direhabilitasi karena proyek, sementara banyak sekolah di daerah pelosok yang butuh perhatian dari pemerintah malah terabaikan, pembangunan fasilitas perpustakaan daerah tidak diperhatikan padahal ini sangat penting untuk membangun kalitas pendidikan ditambah lagi dengan buku-bukunya yang masih sangat terbatas.

Studi banding para pejabat ke-Kabupaten lain tidak membuahkan hasil apapun untuk Majene kecuali hanya menghabisi anggaran, ini terbukti dengan tidak adanya PERDA Pendidikan untuk Majene sebagai kota pendidikan. Jadi pertanyaanya, apa yang dilakukan pejabat daerah pada saat studi banding? apakah sekedar jalan-jalan atau rekreasi? entahlah, yang jelas tidak ada regulasi yang mengatur tentang Majene sebagai kota pendidikan.

Perkembangan pendidikan itu ditandai bangamana kultur pendidikan masyarakatnya. Jika Majene ini meman disiapkan untuk menjadi kota pendidikan maka setiap sudut kota pasti berbauh pendidikan. tetapi ini tidak terjadi di Majene pembangunan kualitas pendidikan tidak dienyahkan oleh pemerintah. Bagamana tidak para politisi bicara pendidikan pada saat momen politik, inikan lucu daerah ini. Pendidikan hanya dijadikan alat politik tetapi jika menduduki sebuah jabatan mereka lupa apa yang dilontarkan sebelumnya. Pada momen politik Baliho-Baliho yang berjejer hampir disemua pinggir jalan kabupaten Majene tidak memiliki nilai pendidikan namun malah yang ada hanya segelintir janji yang cenderung merusak keindahan Kota. Pendidikan juga sering dibicarakan lewat forum dialog dan seminar namun lagi-lagi hanya berhenti dalam wacana tanpa ada perealisasiannya.

Layak atau tidak ini menjadi tidak peting dipersoalkan, tetapi yang harus dipersoalkan adalah mau atau tidak mejadikan Majene sebagai kota pendidikan? jawabanya bisa kita lihat dari apa yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Menurut salah satu pengamat pendidikan mengatakan bahwa Majene ini belum ada tanda-tanda sebagai kota pendidikan disebabkan beberapa indikasi yang nampak di masyarakat minat baca dan diskusi masih sangat rendah. Ia juga menyebutkan bahwa makna Majene Kota Pendidikan telah membuat sejumlah kalangan terkecoh karena propaganda dari pemerintah tentang Kota Majene sebagai Kota Pendidikan yang sangat berlebihan.

Penetapan Majene sebagai kota pendidikan ini tidak lepas dari kepetingan politik dan meman lahir dari rahim politik, sehingga nasib pendidikan kita diterlantarkan oleh pemerintah. Realitas ini telah merusak citra pedidikan dan moralitas peradaban.





KOLONIALISASI TERSELUBUNG DI BALIK MUATAN PENGETAHUAN LEWAT JALUR PENDIDIKAN



 “Dengan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ dan Pancasila, kita prinsipil dan dengan perbuatan, berjuang terus melawan kolonialisme dan imperialisme di mana saja”. 
(Seokarno. 1954)

Di awal tulisan ini mengutip dari pidato Bung Karno yang menegaskan untuk melawan kolonialisme dan imprerialisme di mana saja dan menjadikan pancasila segai dasar negara dan rujukan dalam mengambil setiap kebijakan Negara. Sebab, Kolonialisme telah mendarah daging di negeri ini dengan model baru yang bersaran dalam dunia pendidikan yang disisakan oleh konsep trias politika atau politik balas budi pada tahun 1901 yang dicetuskan oleh van deventer pada saat terpilih sebagai anggota parlemen.


Tri logi van deventer yang di dalamnya terdiri dari emigrasi (perpindahan penduduk), irigasi (pengairan) dan edukasi (pendidikan) merupakan gagasan baru pembaharuan politik yang diberi judul Etische Richting (Haluan Etika) yang lebih dikenal dengan politik etis dimana adanya kewajiban bagi pemerintahan Belanda untuk memperbaiki kesejahteraan dan kedudukan orang pribumi. Pendidikan kolonialisme Belanda yang diajarkan pada penduduk pribumi memiliki tujuan untuk mendapatkan buruh/pelayan yang di gaji murah untuk perusahaan, karna jika mendatangkan tenaga kerja dari belanda maka Belanda harus mengeluarkan banyak biaya dan harus menggaji dengan uang dollar, untuk itulah belanda kemudian membangun sekolah-sekolah untuk rakyat pribumi, itupun hanya diajari membaca menulis dan menghitung untuk persiapan tenaga buruh di perusahaan.

Shirley Brice Heath  mengatakan Pada awal abad ini, para pemilik pabrik merancang sekolah agar menjadi tempat pemuja budaya kota yang membuat buruh pabrik menjadi jinak dan nrimo. Selama beberapa dekade, telah lahir generasi baru yang menggantikan orangtuanya di pabrik, selain juga bertambahnya persekolahan. Senyatanyalah, sekolah bukan arena objektif yang netral. Ia merupakan lembaga yang bertujuan mengubah dasar-dasar nilai, ketrampilan, dan pengetahuan manusia.
Menurut Ki Hajar Dewantara dalam salah satu pidatonya mengatakan bahwa Politik Etis penjajah sepertinya akan lunak dengan kemajuan pendidikan pribumi, tetapi tetap saja pola kebijakan pendidikan kolonial tersebut menunjukkan sifat intelektualis, alitis, individualis dan materialis (Rifa’i, 2011: 83) Penjajahan Belanda menerapkan pendidikan yang sangat diskriminatif dan menghalangi perkembangan pendidikan lokal. Prinsif pendidikan yang diajarkan hanya untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dan lebih di khsuskan pada golongan bangsawan dan priai saja. Pendidikan merupakan alat transformasi sosial dalam masyarakat modern, dengan kata lain pendidikan dan kekuasaan sangat berhubungan erat, betapa kekuasaan pendidikan sangat besar dan bisa mengubaha wajah dunia. Pendidikan yang dijadikan alat untuk melegetimasi kekuasaan kolonial Belanda untuk meredam nasionalisme.

Di sinilah berawal pendidikan di Indonesia diarahkan semata-mata hanya untuk bekerja atau menjadi buruh yang hanya menciptakan budaya bisu dan dijajah tanpa sadar. Sampai di era modern ini pendidikan kita masih sangat mengecewakan yang memakai paradigma behaviorisme dan strukturalisme eropa, ini kemudian mengkonstruk paradigma masyarakat dunia ketiga dalam merumuskan sistem pendidikan yang berpijak pada pengetahuan Eropa memiliki corak liberal yang menjarah kebebasan individu dari proses penindasan oleh kolonialisme yang tidak disadari. Parahnya lagi, kolonialisasi dalam proses pendidikan yang samar ini, siswa menghadapi dan menganggap sebagai suatu hal yang wajar. Proses Dehumanisasi membuat peserta didik terealinasi dari realitas lingkungannya.

Keterjebakan pendidikan kita dalam paradigma konservatif yang secara umum sangat liberal. Ini ditandai dengan proses privatisasi, model subjek-objek, serta orientasinya yang kental dengan ideologi kapitalisme. Ketika dunia didera gelombang globalisasi, pendidikan kian bergeser dari status dan fungsi awalnya. Pendidikan mau tidak mau dipaksa tereduksi hanya sebagai komoditas dan harus terbingkai dalam logika pasar. Faulo Freire mengatakan bahawa pendidikan model semacam ini adalah pendidikan model gaya bank (baking model) model pendidikan ini menjadi tidak manusiawi, tapi menyiapkan peserta didik sebagai homo economicus semata. Ditambah lagi dengan biaya pendidikan yang sangat mahal akibat dari komersialisasi pendidikan atau menjadi lahan bisnis, megakibatkan banyak mahasiswa terjebak dalam paragmatisme pasar yang merosotkan fotensi-fotensi untuk melakukan transformasi sosial.

Pendidikan menurut freire adalah menyangkut kesadaran manusia, freire mengklasifikasikan kesadaran dalam tiga tingkatan, ia menjelasakan proses dehumanisasi telah menjadi bagian yang melekat ada pendidikan. proses dehumanisasi akibat ketidak tahuan manusia yang berimflikasi pada struktur kesadaran. Ia mengklasifikasikan bentuk kesadaran, yang pertama adalah kesadaran megic, kesadaran Naif dan kesadaran kritis.

Kesadaran magic yakni kesadaran yang hanya berhenti melihat dan merasakan penindasan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari dan tidak mampu melihat kaitan antara faktor yang satu dengan yang lainnya. Akibatnya, dalam dunia pendidikan, guru adalah kebenaran tunggal yang harus diikti dan ditiru oleh peserta didik.
Kesadaran tahap berikutnya adalah kesadaran naif yaitu sadar akan terjadi penindasa tapi tidak nmenghiraukannya atau pasrah dengan keadaan, kesadaran ini menekankan peranan dan aspek manusia sebagai penyebab timbulnya persoalan. Maka, pembenahan dan perbaikan atas seluruh bangunan masyarakat harus diarahkan pada manusianya sendiri. Anak didik harus diberi motivasi, dorongan, kursus, traning, dan sebagainya sehingga ia dapat menyesuaikan diri dengan sistem dalam masyarakat yang dianggap benar itu.

Selanjutnya adalah kesadaran kritis. yaitu menyadari adanya proses penindasan dan bertindak untuk keluar dari proses penindasan itu. Yang ingin dicapai di sana adalah bagaimana merombak tatanan yang timpang tersebut dan mentransformasikannya dalam situasi yang lebih baik.

Freire tidak hanya mengkritik pendidikan yang ada di negara dunia ketiga tapi juga memiliki tawaran untuk keluar dari jeratan pendidikan liberal ini. dari berbagai tawaranya salah satu diantaranya bahwa pendidikan harus kemballi memanusiakan manusia, dan pendidikan harus terlibat dalam politik dalam hal ini bukan politik praktis tetapi  bagaimana pendidikan mempengaruhi dunia politik bukan politik yang mengendalikan pendidikan. Relasi pendidikan dan politik meman tidak bisa dipisahkan, perkembangan pendidikan tergantung dari siapa penguasa dalam sebuah negara. Prancis Bacon mengatakan bahwa pendidikan adalah kekuasaan. kita bisa melihat bagamana pendidikan dijadikan alat Hegemoni kekuasaan di zaman seoharto yang menciptakan budaya bisu dalam pendidikan dan masyarakat. Disinilah freire menekankan bahwa pendidikan harus menjadi patron politik.

Dalam wacana teori kritik, konsepsi politik dipahami secara berbeda dengan pemahaman modernisme konvensional. Politik merupakan bentuk manifestasi dari relasi-relasi kekuasaan pada semua level interaksi sosial; tindakan subjektivitas seseorang senantiasa berada dalam relasi-relasi kepentingan, maka pengetahuan dan kekuasaan membangun relasi yang mutual.

Berangkat dari teori hegemoni juga berawal dari konsep diskursus-nya Foucault. Dalam pengertian intelektual Prancis, diskursus (wacana) adalah cara menghasilkan pengetahuan, beserta praktik sosial yang menyertainya, bentuk subjektivitas yang terbentuk darinya, relasi kekuasaan yang ada di balik pengetahuan dan praktik sosial tersebut, serta saling keterkaitan di antara semua aspek ini. Dengan cakupan pengertian seperti ini, Foucault menulis salah satu judul bukunya dengan Power/Knowledge, kekuasaan dan pengetahuan seperti dua sisi mata uang. Kekuasaan (dan sekaligus pengetahuan) bukanlah sebuah entitas atau kapasitas yang dapat dimiliki oleh satu orang atau lembaga, melainkan sebuah jaringan yang tersebar di mana-mana dan selalu bergerak atau bergeser.

Kolonialisme berperan besar dalam membentuk mental dan kognisi publik masyarakat kolonial. Pendidikan  warisan kolonial Belanda masih sangat melekat di jantung pendidikan kita yang menghilangkan kesadaran Nasionalisme, dan mengakibatkan terjadinya benturan idealisme dengan tuntutan paragmatisme di era globalisasi dunia datar ini yang ditandai dengan hilangnya batas-batas negara (transnasional) dan free market yang didominasi oleh paradigma ekonomi. Sehingga, kebijakan-kebijakan yang lahirpun bersifat materialistik atau money oriented yang merupakan jangkaran untuk kolonialisasi politik dalam rangka untuk memperkuat dominasi asing di Bangsa ini.

Reference :

Freire Paulo, Politik Pendidikan.Pustaka Belajar
Benny Susetyo.Politik Pendidikan Pengasa.Yogyakarta : Elkis, 2005
Tilaar, H. A. R. & Nugroho, R. (2009). Kebijakan Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
http://blog-kusaeri.blogspot.com/2012/11/neoliberalisme-dalam-perspektif.html






Kamis, 07 Juli 2011

Rene Descartes


“Aliran Rasionalisme”


Rene Dercartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu mereka yang percaya bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam pikiran. Zaman Rene Descartes adalah puncaknya renaissance “kelahiran kembali” (1596-1650)., yang ingin dilahirkan kembali ialah kebudayaan klasik yunani dan romawi, karna pada masa itu orang eropa sedang bingung mencari solusi untuk memecahkan masalah kebudayaan tradisional barat yang telah tersusupi oleh jiwa kristiani. Rene Descartes merumuskan pengetahuan murni untuk keluar dari dotrin gereja yang menurutnya pengetahuan Gereja penuh intrik kebohongan dan kepentingan. Maka, sudah saatnya kita berpisah dengan Gereja, saya bisa mencapai Tuhan tanpa Gereja, jadi metode yang paling tepat untuk mendapatkan pengetahuan melalui kontenplasi “bersemedi”.

Pada abad ke VI M, metode yang paling tepat untuk mendapatkan pengetahuan adalah metode kesangsian “keragu-raguan”. Menurut Descates, aku biasa menyangsikan segala apapun yang ada pada alam, baik alam metafisika maupun alam fisika. Ketika menyangsikan segala sesuatu maka yang tertinggal adalah yang sedang menyangsi. Dalam rangka kesangsian metodis ini hanya satu hal yang tidak diragukan, yaitu “saya yang sedang meragu”, itulah “cogito ergo sum” aku berfikir maka aku ada. Ini bukan hayalan tapi tapi kenyataan, bahwa aku sedang meragu. Jika aku menyangsikan sesuatu maka aku menyadari bahwa aku menyangsikan adanya.

Melalui metode ini untuk mendapatkan pengetahuan yaitu mencari apa yang ada di luar kesangsian. Untuk megetahui apa yang ada di luar kesangisang yaitu mencari apa yang lebih dekat dengan kesadaran, yang lebih dekat adalah tubuh. Tubuh itulah yang akan menjelaskan seluruh alam semesta. Pada hukum causalitas “sebab akibat”, Tubuh adalah subtansi akibat dan subtansi penyebabnya adalah kesadaran. Kemudian kesadan juga ada yang menggerakkan yaitu causaprima “penyebab tertinggi”. Penyebab tertinggi itu dalah Tuhan.

Paham ini dengan jelas sangat mengunggulkan dan mementingkan rasio dari pada realitas yang dipikirkannya. Akhirnya, rasiolah yang menjadi indikasi keberadaan (eksistensi) si subyek (aku) yang mengetahui sesuatu. Rene Deskartes yang memakai rasio untuk mendapatkan pengetahuan yang murni, namun rasio “pemikiran” manusia itu terbatas dalam memahami sesuatu, juga terbatas pada norma dan budaya masyarakat yang ada. Tidak selamanya teori kesangsian dapat itu biasa diterapkan dalam lingkungan social karna lingkungan social tidak selamanya bias di implementasikan lewat atom. Rasio dapat berfungsi berdasarkan hasil pengindraan yang dialami, karna tidak mungkin kita bisa mendapatkan ide ketika tidak ada sesuatu yang di alami, misalkan Descartes sendiri mempunyai metode kesangsian, causalitas dengan causaprima, ini bermula dari kondisi Barat-Eropa yang di hegemoni oleh pengetahuan gereja, dalam hal ini Descartes ingin keluar dari dogma kristiani. Jadi, tidak mungkin Rene Descartes memiliki pengetahuan baru jika tidak ada peristiwa yang di alami dan pengetahuan sebelumnya.

Dalam teori dualisme Rene Descartes, dia memakai dua cara dalam menyangsi denan cara deduktif dan intuitif. Metode intuitif yang dilakukan deskartes adalah sebuah utopis. Hal ini jelas ketika Descartes memiliki mimpi-mimpi dan lingkungan sekitarnya dia menyangsikan. Meskipun apa yang kita lihat terkadang bukan yang sebenarnya begitu pula sebaliknya yang kita lihat itulah yang sebenarnya.

Metode kesangsian Rene Descartes telah melahirkan berbagai konsekuensi. Metode ini telah menempatkan rasionalitas sebagai standar nilai budaya bagi orang-orang barat. Oleh karnanya masyarakat Barat merasa superior atas masyarakat non Barat. Masyarakat non barat merasa inferior berhadapan masyarakat barat karna saat ini budaya baratlah yang memegan kendali (hegemoni) hampir semua segi kehidupan masyarakat dunia. Dengan demikian masyarakat non-Barat termasuk Indonesia, cenderung mengadopsi konsep kosep barat hamper dari semua segi kehidupan. Masyarakat modern cenderun menempatkan akal (rasio) sebagai sumber penentu kebenaran, penentu kebenaran bukan lagi agama dan dogma. Masyarakat modern juga menjadikan agama sebagai privat belaka.

Antroposentrisme Socrates dan Plato

Pengantar Rata Penuh

Antroposenterisme adalah manusia menjadi sentral pengetahuan bukan lagi berpusat pada alam, dizaman yunani kuno ada bebarapa tokoh filsuf antropologi yang terkenal pada waktu itu di antranya, socrates, plato dan aristoteles. Di sini berawal adanya strata sosial, Yang tertinggi: Filsuf, Pejabat, Pedagang/Tabit kemudian Buruh.

Scrates mengajarkan bahwa manusia harus mencari kebenaran dan kebijakan dengan cara berpikir secara dialektis. Plato mengatakan kebenarannya hanya ada di alam ide yang bisa diselami dengan akal, sedangkan Aristoteles merupakan peletak dasar empirisme, yaitu kebenaran harus dicari melalui pengalaman panca indera Plato menyatakan filsafat ialah pengetahuan yang bersifat untuk mencapai kebenaran yang asli. Periode setelah Socrates disebut dengan zaman keemasan filsafat Yunani karena pada zaman ini kajian-kajian yang muncul adalah perpaduan antara filsafat alam dan filsafat tentang manusia. Tokoh yang sangat menonjol adalah Plato, yang sekaligus murid Socrates. Menurutnya, kebenaran umum itu ada bukan dibuat-buat bahkan sudah ada di alam idea.

Filsafat dalam periode ini ditandai oleh ajarannya yang"membumi" dibandingkan ajaran- ajaran filsuf sebelumnya. Seperti dikatakan Cicero seorang sastrawan Roma bahwa Socrates telah memindahkan filsafat dari langit ke atas bumi. Maksudnya, filsuf pra-Socrates mengkonsentrasikan diri pada persoalan alam semesta sedangkan Socrates mengarahkan obyek penelitiannya pada manusia di atas bumi. Hal ini juga diikuti oleh para sofis. Seperti telah disebutkan di depan, sofis (sophistes) mengalami kemerosotan makna. Sophistes digunakan untuk menyebut guru-guru yang berkeliling dari kota ke kota dan memainkan peran penting dalam masyarakat. Dalam dialog Protagoras, Plato mengatakan bahwa para sofis merupakan pemilik warung yang menjual barang ruhani.


SOCRATES

Socrates lahir di Athena pada tahun 470 sebelum Masehi dan meninggal pada tahun 399 SM. Bapaknya tukang pembuat patung, ibunya bidan. Pada permulaannya Socrates mau menuruti jejak bapaknya, sebagai tukang pembuat patung. Namun, ia berganti haluan: dari membentuk batu jadi patung ia membentuk watak manusia. Masa hidupnya hampir sejalan dengan perkembangan sufisme di Athena. Socrates bergaul dengan semua orang, tua dan muda, kaya dan miskin. Ia seorang filosof dengan coraknya sendiri. Ajaran filosofinya tak pernah dituliskannya, melainkan dilakukannya dengan perbuatan, dengan cara hidup. Menurut kata teman-temannya: Socrates demikian adil, sehingga ia tak pernah berlaku zalim. Ia begitu pandai menguasai dirinya, sehingga ia tak pernah memuaskan hawa nafsu dengan merugikan kepentingan umum. Ia demikian cerdiknya, sehingga ia tak pernah khilaf dalam menimbang buruk baik.

Sebagaimana para sofis, Socrates memulai filsafatnya dengan bertitik tolak dari pengalaman keseharian dan kehidupan kongkret. Perbedaannya terletak pada penolakan Socrates terhadap relatifisme yang pada umumnya dianut para sofis. Menurut Socrates tidak benar bahwa yang baik itu baik bagi warga negara Athena dan lain lagi bagi warga negara Sparta. Yang baik mempunyai nilai yang sama bagi semua manusia, dan harus dijunjung tinggi oleh semua orang. Pendirinya yang terkenal adalah pandangannya yang menyatakan bahwa keutamaan (arete) adalah pengetahuan, pandangan ini kadang-kadang disebut intelektualisme etis. Dengan demikian Socrates menciptakan suatu etika yang berlaku bagi semua manusia. Sedang ilmu pengetahuan Socrates menemukan metode induksi dan memperkenalkan definisi-definisi umum.

Socrates tidak pernah menuliskan filosofinya. Jika ditilik benar-benar, ia malah tidak mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilosofi. Bagi dia filosofi bukan isi, bukan hasil, bukan ajaran yang berdasarkan dogma, melainkan fungsi yang hidup. Filosofinya mencari kebenaran. Oleh karena ia mencari kebenaran, ia tidak mengajarkan. Ia bukan ahli pengetahuan, melainkan pemikir.

Tujuan filosofi Socrates ialah mencari kebenaran yang berlaku untuk selama-lamanya. Di sini berlainan pendapatnya dengan guru-guru sofis, yang mengajarkan, bahwa semuanya relatif dan subyektif dan harus dihadapi dengan pendirian yang skeptis. Socrates berpendapat, bahwa kebenaran itu tetap dan harus dicari.

Menurut socrates alam manusia untuk merefleksi dan mentasformasi, menganalisis alam semesta dengan alat/perangkat manusia, melalui metode dialog dan debat hasil dari itulah yang dijadikan pengetahuan pada saat itu. Maka pada saat itu yunani ribut karna ulah socrates yang dianggap gila, yang setiap orang yang bertemu dengannya selalu melakukan dialog dan debat dan mempengaruhi beberapa orang dengan pemikirannya, socrates pun dihukum dan dieksekusi dengan meminum racun. Sebelum socrates dieksekusi ada tulisannya yang bernama jidrum, yang dikembangkan muridnya palato.

Socrates mencari pengertian, yaitu bentuk yang tetap dari pada sesuatunya. Sebab itu ia selalu bertanya: apa itu? Apa yang dikatakan berani, apa yang disebut indah, apa yang bernama adil? Pertanyaan tentang? apa itu? harus lebih dahulu dari pada ?apa sebab?. Ini biasa bagi manusia dalam hidup sehari-hari. Anak kecil pun mulai bertanya dengan ?apa itu?. Oleh karena jawab tentang ?apa itu? harus dicari dengan tanya jawab yang mungkin meningkat dan mendalam, maka Socrates diakui pula?sejak keterangan Aristoteles?sebagai pembangun dialektik pengetahuan. Tanya jawab, yang dilakukan secara meningkat dan mendalam, melahirkan pikiran yang kritis. Dalam berjuang mencari kebenaran yang umum lakunya, yaitu mencari pengetahuan yang sebenar-benarnya, terletak seluruh filosofinya.

Oleh karena Socrates mencari kebenaran yang tetap dengan tanya-jawab sana dan sini, yang kemudian dibulatkan dengan pengertian, maka jalan yang ditempuhnya ialah metode induksi dan definisi. Kedua-duanya itu bersangkut-paut. Induksi menjadi dasar definisi. Induksi yang menjadi metode Socrates ialah memperbandingkan secara kritis. Ia tidak berusaha mencapai dengan contoh dan persamaan, dan diuji pula dengan saksi dan lawan saksi. Seperti disebut di atas, dari lawannya bersoal jawab, yang masing-masing terkenal sebagai ahli dalam haknya sendiri-sendiri, dikehendakinya definisi tentang ?berani? ?indah? dan lain sebagainya. Pengertian yang diperoleh itu diujikan kepada beberapa keadaan atau kejadian yang nyata. Apabila dalam pasangan itu pengertian tidak mencukupi, maka dari ujian itu pengertian dicari perbaikan definisi. Definisi yang tercapai dengan cara begitu diuji pula sekali lagi untuk mencapai perbaikan yang lebih sempurna. Demikianlah seterusnya. Begitulah cara Socrates mencapai pengertian. Dengan melalui induksi sampai kepada definisi. Definisi yaitu pembentukan pengertian yang umum lakunya. Induksi dan definisi menuju pengetahuan yang berdasarkan pengertian. Budi ialah tahu, kata Socrates. Inilah inti sari dari pada etiknya. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Paham etiknya itu kelanjutan dari metodenya. Induksi dan definisi menuju kepada pengetahuan yang berdasarkan pengertian. Dari mengetahui beserta keinsafan moral, mesti menimbulkan budi.

Apabila budi adalah tahu, maka tak ada orang yang sengaja, atas maunya sendiri, berbuat jahat. Kedua-duanya, budi dan tahu, bersangkut-paut. Apabila budi adalah tahu, berdasarkan timbangan yang benar, maka jahat hanya datang dari orang yang tidak mengetahui, orang yang tidak mempunyai pertimbangan atau penglihatan yang benar. Orang yang kesasar adalah kurban daripada kekhilafananya sendiri. Kesasar bukanlah perbuatan yang disengaja. Tidak ada orang yang khilaf atas maunya sendiri. Oleh karena budi adalah tahu, maka siapa yang tahu akan kebaikan dengan sendirinya terpaksa berbuat baik. Untuk itu perlulah orang pandai menguasai diri dalam segala keadaan. Dalam suka maupun duka. Dan apa yang pada hakekatnya baik, adalah juga baik bagi kita sendiri. Jadinya, menuju kebaikan adalah jalan yang sebaik-baiknya untuk mencapai kesenangan hidu Kesenangan hidup tidak pernah dipersoalkan oleh Socrates, sehingga murid-muridnya kemudian memberikan pendapat mereka sendiri-sendiri tentang kesenangan hidup.




PLATO


Plato lahir pada tahun 428/7 sebelum masehi dari keluarga terkemuka di Athena, ayahnya bernama Ariston dan ibunya bernama Periktione. Ketika bapaknya meninggal ibunya menikah lagi dengan adik ayahnya Plato yang bernama Pyrilampes yang tidak lain adalah seorang politikus, dan Plato banyak terpengaruh dengan kehadiran pamannya ini. Karena sejak kehadiran pamannya ini ia banyak bergaul dengan para politikus Athena.

Ada tiga ajaran pokok dari Plato yaitu tentang idea, jiwa dan proses mengenal. Menurut Plato realitas terbagi menjadi dua yaitu inderawi yang selalu berubah dan dunia idea yang tidak pernah berubah. Idea merupakan sesuatu yang obyektif, tidak diciptakan oleh pikiran dan justru sebaliknya pikiran tergantung pada idea-idea tersebut. Idea-idea berhubungan dengandunia melalui tiga cara; Idea hadir di dalam benda, idea-idea berpartisipasi dalam kongkret, dan idea merupakan model atau contoh (paradigma) bagi benda konkret. Pembagian dunia ini pada gilirannya juga memberikam dua pengenalan. Pertama pengenalan tentang idea; inilah pengenalan yang sebenarnya. Pengenalan yang dapat dicapai oleh rasio ini disebut episteme (pengetahuan) dan bersifat, teguh, jelas, dan tidak berubah. Dengan demikian Plato menolak relatifisme kaum sofis. Kedua, pengenalan tentang benda-benda disebut doxa (pendapat), dan bersifat tidak tetap dan tidak pasti; pengenalan ini dapat dicapai dengan panca indera. Dengan dua dunianya ini juga Plato bisa mendamaikan persoalan besar filsafat pra-socratik yaitu pandangan panta rhei-nya Herakleitos dan pandangan yang ada-ada-nya Parmenides. Keduanya benar, dunia inderawi memang selalu berubah sedangkan dunia idea tidak pernah berubah dan abadi.

Plato mengekritisi teori socrates pengetahuan yang didapatkan melalui dialog, karna menurutnya apa yang di dapat dari dialog karna untuk mendapatkan pengetahuan harus ada prinsip-prinsip pengetahuan. Maka yang harus dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan yaitu melalui dialegtika, mempertentangkan sesuatu kemudian mencari solusi atau titik temu. Pengetahuan yang tertinggi adalah idios atau ide yang memberi aturan pada prinsip-prisip materi dan materi itu buakanlah subtansi dari realitas bukan yang sebenarnya. Subtansi tertinggi adalah metafisika, sehingga filsafat plato dikenal dengan filsafat transendental.

Dalam menelurkan karya-karya fisafatnya Plato menggunakan metode dialegtika, karena ia percaya filsafat akan lebih baik dan teruji jika dilakukan melalui dialog dan banyak dari karya-karyanya disampaikan secara lisan di akademia-nya. Di satu sisi ia masih mempercayai beberap mitos yang digunakan olehnya untuk mengemukakan dugaan-dugaan mengenai hal-hal duniawi. Ia banyak dipengaruhi oleh gurunya, Socrates dalam pemikirannya.

Idea merupakan inti dasar dari seluruh filasaft yang diajarkan oleh Plato. Ia beranggapan bahwa idea merupakan suatu yang objektif, adanya idea terlepas dari subjek yang berfikir. Idea tidak diciptakan oleh pemikiran individu, tetapi sebaliknya pemikiran itu tergantung dari idea-idea. Ia memberikan beberapa contoh seperti segitiga yang digambarkan di papan tulis dalam berbagai bentuk itu merupakan gambaran yang merupakan tiruan tak sempurna dari idea tentang segitiga. Maksudnya adalah berbagai macam segitiga itu mempunyai satu idea tentang segitiga yang mewakili semua segitiga yang ada.

Dalam menerangkan idea ini Plato menerangkan dengan teori dua dunianya, yaitu dunia yang mencakup benda-benda jasmani yang disajikan pancaindera, sifat dari dunia ini tidak tetap terus berubah, dan tidak ada suatu kesempurnaan. Dunia lainnya adalah dunia idea, dan dunia idea ini semua serba tetap, sifatnya abadi dan tentunya serba sempurna. Idea mendasari dan menyebabkan benda-benda jasmani. Hubungan antara idea dan realitas jasmani bersifat demikian rupa sehingga benda-benda jasmani tidak bisa berada tanpa pendasaran oleh idea-idea itu. Hubungan antara idea dan realitas jasmani ini melalui 3 cara, pertama, idea hadir dalam benda-benda konkrit. Kedua, benda konkrit mengambil bagian dalam idea, disini Plato memperkenalkan partisipasi dalam filsafat. Ketiga, Idea merupakan model atau contoh bagi benda-benda konkrit. Benda-benda konkrit itu merupakan gambaran tak sempurna yang menyerupai model tersebut.

Plato menganggap bahwa jiwa merupakan pusat atau intisari kepribadian manusia, dan pandangannya ini dipengaruhi oleh Socrates. Salah satu argumen yang penting ialah kesamaan yang terdapat antara jiwa dan idea-idea, dengan itu ia menuruti prinsip-prinsip yang mempunyai peranan besar dalam filsafat. Jiwa memang mengenal idea-idea, maka atas dasar prinsip tadi disimpulkan bahwa jiwapun mempunyai sifat-sifat yang sama dengan idea-idea, jadi sifatnya abadi dan tidak berubah.

Plato mengatakan bahwa dengan kita mengenal sesuatu benda atau apa yang ada di dunia ini sebenarnya hanyalah proses pengingatan sebab menurutnya setiap manusia sudah mempunyai pengetahuan yang dibawanya pada waktu berada di dunia idea, dan ketika manusia masuk ke dalam dunia realitas jasmani pengetahuan yang sudah ada itu hanya tinggal diingatkan saja, maka Plato menganggap juga seorang guru adalah mengingatkan muridnya tentang pengetahuan yang sebetulnya sudah lama mereka miliki.

Ada tiga golongan dalam negara yang baik, yaitu pertama, Golongan Penjaga yang tidak lain adalah para filusuf yang sudah mengetahui yang baik dan kepemimpinan dipercayakan pada mereka. Kedua, Pembantu atau Prajurit. Dan ketiga, Golongan pekerja atau petani yang menanggung kehidupan ekonomi. Plato tidak begitu mementingkan adanya undang-undang dasar yang bersifat umum, sebab menurutnya keadaan itu terus berubah-ubah dan peraturan itu sulit disama-ratakan itu semua tergantung masyarakat yang ada di polis tersebut.

Adapun negara yang diusulkan oleh Plato berbentuk demokrasi dengan monarkhi, karena jika hanya monarkhi maka akan terlalu banyak kezaliman, dan jika terlalu demokrasi maka akan terlalu banyak kebebasan, sehingga perlu diadakan penggabungan, dan negara ini berdasarkan pada pertanian bukan perdagangan. Hal ini dimaksudkan menghindari nasib yang terjadi di Athena.